Astaghfirullah, Merapi Meletus, Berlindung! Pendaki Sedang Lakukan Ini saat Merapi Meletus
Friday, May 11, 2018
Saat Gunung Merapi melatus, para pendaki sedang santai sembari memasak makanan di Pasar Bubar. Mereka tak menyangka Gunung Merapi akan meletus.
Baca Juga
Tak ada tanda-tanda sebelumnya Merapi akan meletus, bahkan para pendaki ini sedang bersantai sambil memasak makanan.
'Eh..erupsi...erupsi...Astaghfirullahaladzim....Astaghfirullahaladzim....Astaghfirullahaladzim, berlindung..berlindung' terdengar teriakan.
Adapun Kamera Pemantau Gunung Merapi BPPTKG sebelumnya memang menangkap adanya pendaki yang tengah berada di Pasar Bubrah pada Jumat (11/5/2018) pagi.
Keberadaan para pendaki bersamaan dengan terjadinya erupsi freatik yang mengakibatkan munculnya kolom asap setinggi 5500 meter.
Tak lama setelah erupsi berakhir, Relawan Barameru bersama BTN Gunung Merapi melakukan evakuasi terhadap para pendaki yang masih berada di kawasan Pasar Bubar.
Sultan Minta Masyarakat Tenang
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, meminta masyarakat tetap tenang menyikapi erupsi freatik Gunung Merapi, pada Jumat (11/5/2018) pagi.
Apalagi, ia menilai, warga Yogyakarta sudah berpengalaman mengantisipasinya.
"Ya, tenang saja lah, saya kira (erupsinya) tidak dari aktivitas yang dari awal sudah siaga dan sebagainya. Kalau abu, itu kan hanya kabur (terbawa angin) to, dari ketinggian, semoga saja tidak keluar lagi," katanya, saat dijumpai di Bangsal Kepatihan, Yogyakarta.
Meski cukup membuat gusar masyarakat, Sultan memastikan, Pemda DIY belum akan menetapkan status tanggap darurat.
Sejauh ini, pihaknya masih menunggu informasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).
"Belum, belum. Belum ada pemberitahuan dari BPPTKG bahwa ini berbahaya kok. Jadi, kan tidak ada dasarnya (menetapkan status tanggap darurat)," cetusnya. (*)
Asap Menyembur Keluar
Erupsi freatik terjadi di Puncak Gunung Merapi pada Jumat (11/5/2018) pagi.
Gunung Merapi pun mengeluarkan asap yang disertai debu vulkanik.
Hujan abu vulkanik dan sebaran debu terjadi di beberapa kawasan di Sleman, bahkan mencapai kota Yogyakarta.
Kepala Pusat Studi bencana Alam (PSBA) UGM, Dr Djati Mardiatno, mengatakan letusan Gunung Merapi kali ini merupakan erupsi freatik, dimana terjadinya kontak antara magma dengan air yang menyebabkan keluarnya asap menyembur keluar melalui kolom menuju puncak Merapi.
Namun begitu, status Merapi masih normal.
“Jadi ada air yang berkontak dengan magma, mirip seperti air yang dimasukkan dalam wajan yang berisi minyak goreng tengah panas, muncul percikan,” kata Djati kepada wartawan pasca letusan gunung Merapi, Jumat (11/5/2018).
Djati menilai kontak antara air dengan magma disebabkan adanya retakan baru pada kawah yang menyebabkan air tanah masuk ke dalam magma.
Namun begitu, adanya retakan tersebut menurutnya proses alami karena aktivitas magma Merapi yang selalu aktif.
“Kasus Merapi mengalami letusan freatik ini pernah terjadi sebelumnya,” katanya.
Kepulan asap yang keluar dari puncak Merapi tidak hanya mengeluarkan uap air namun juga membawa pasir dan debu.
Sebaran debu pun menurutnya akan menyebar menyesuaikan dengan arah angin berhembus.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak panik dan menggunakan masker selama hujan abu vulkanik masih berlangsung.
“Bukan sekadar debu, abu vulkanik itu mengandung silika (Bahan baku kaca) sehingga apabila terhirup dan kena mata akan menyebabkan iritasi,” kata Djati.
Meski Merapi sering mengalami letusan Freatik namun Djati menilai bukan berarti akan terjadi letusan yang lebih besar.
Menurutnya sepanjang aktivitas magma tidak keluar melalui puncak hal tersebut tidak akan terjadi erupsi dalam skala besar.
Sumber: Tribunnews